Menari Dengan Harapan Baru

Aku masih mencoba tersenyum mengingat kejadian yang aku alami. Ya walaupun lebih sering tersenyum getir sih. Tapi aku mencoba untuk menerimanya menjadi bagian dari cerita hidupku.

“Nin, aku berangkat ke kantor duluan nih kalo kamu gak siap pake sepatunya. Masa’ masang sepatu aja sampai berjam-jam? Aku udah hampir haji dua kali nih.” Omel Gina, kawan satu kost sekaligus sahabat paliiiing baik dan paling sabar mengahadapi aku. Ya walaupun sabarnya dia didefinisikan dengan omelan riuhnya yang hampir tiap hari kudengar. Tapi aku senang mendengar omelannya, karena itu tanda bahwa dia masih peduli kepadaku. Aku hanya tersenyum geli mendengar omelannya yang lucu.

“yok berangkat, aku yang nyetir motornya ya.” Ujar ku sambil merebut kunci motor dari tangannya.

“kamu yakin Nin? Kamu udah kuat nih bawa motor? Atau jangan-jangan kamu cedera otak?” ujar Gina sambil meraba kepala ku.

“apaan sih kamu Gin, aku gapapa kok, aku udah seribu persen move on kok.” Ujarku meyakinkan, walaupun terasa getir dihatiku.

Kami pun melaju membelah keramaian kota. Dan setiap sudut kota ini selalu memberikan kenangan kenangan kecil di pikiranku, yang tak jarang membuat dadaku sesak. Benar kata Gina, aku memang belum seharusnya menyetir kendaraan bila keadaanku belum baik. Dan dalam hal ini hatiku masih belum pulih benar. Baru 3 bulan lalu ketika Adam, kekasihku, meninggalkanku dan menyisakan luka dalam, teramat dalam. Aku hanya bisa terdiam membisu ketika dia menyatakan keputusannya. Keputusan yang menimbulkan keputus asaan pula padaku. Kata-katanya yang halus dan bahasanya yang lembut seakan panah yang menghujam didadaku.

“Niiiiiiin!!!” aku tersadar dari lamunanku mendengar suara jeritan Gina. aku terus menjalankan motor kami tanpa sadar telah melewatkan kantor kami.

“Apa aku bilang kan Nin, aku aja yang bawa motor. Kamu sih sok kepedan.” Ujar Gina mulai mengomel lagi.

“Udahlah Gin, gak ada reply, gak bisa diulang lagi, toh kita udah sampe.” Jawabku sambil melempar senyum yang dianggap Gina sangat menyebalkan, senyum tidak bersalah. Ya, memang apa gunanya lagi mengomel seperti itu seakan akan kejadian tersebut bisa diulang lagi. Sama seperti kisah cintaku dengan Adam, tidak akan mungkin terulang lagi walaupun aku sangat menyayanginya, hingga saat ini. walaupun perasaan ini baru aku sadari akhir-akhir ini. ya, aku sangat ceroboh hingga tidak menyadari adanya perasaan ini. Dan saat ini, ketika dia tidak lagi disisiku, aku merasakannya, aku menyadarinya, dan aku sangat merindukan dia.

Dan kantor ini adalah saksi bagaimana aku dan semua ambisiku, menghabisi aku dimasa kini. Terlalu sibuk mengejar karir, kerja tanpa henti, seakan-akan kalau tidak kerja aku akan sakau, begitulah aku. Seorang wanita dengan penuh ambisi. Dan sesungguhnya, aku sangat beruntung memiliki kekasih seperti Adam. Dia pengertian, dia sabar, dan dia mau mendengar segala keluh kesahku. Tak jarang semua kekesalanku kulampiaskan kepadanya. Namun dia tidak pernah protes, dia selalu sabar, dan terkadang dia memberikan jokes jokes ringan yang segera merefresh kembali otakku untuk kembali bekerja. Selama 3 tahun lamanya kami seperti itu, dan ditahun ke empat, dia mengajakku untuk mengarah ke jenjang yang lebih serius. Dan sayangnya, aku menganggap itu sebagai bagian dari jokes yang dia lemparkan. Aku hanya mengacuhkan dan tidak menganggapnya serius. Hingga dia membelikan buku-buku tentang berumah tangga, tentang wanita, dan tentang fitrahnya wanita. Dan sudah bisa ditebak, tidak sedikitpun buku-buku tersebut tersentuh jari-jariku yang sehari-hari sibuk beradu dengan keyboard, menyelesaikan laporan, memantapkan dokumen, dan sebagainya.

Hingga tanpa aku sadar, sudah memasuki tahun ke 5 aku bersamanya dan aku terus mengacuhkan ajakan seriusnya. aku melupakan keberadaannya didekatku, aku tidak menghiraukan bagaimana perasaannya. Tentu berat bagi seorang laki-laki yang sudah siap menikah, yang sudah siap secara lahir batin untuk bertanggung jawab, namun ajakan seriusnya tidak pernah ditanggapi serius. Dan akhirnya hari itupun datang, hari dimana rasa kehilangan itu muncul, rasa penyesalan itu menghujam hatiku, rasa yang aku sesalkan. Rasa cinta, rasa sayang, rasa rindu, yang tiba-tiba saja seperti berebut keluar dari hatiku untuknya, untuk Adam, untuk Pria yang selama ini menyayangiku setulus hatinya. Kenapa semua rasa itu datang terlambat? Kenapa semua rasa itu datang ketika hatinya sudah tak mungkin lagi dirubah. Keputusannya untuk meninggalkanku, keputusannya untuk menyerah padaku. Dan tak sampai setengah umur dari hubungan kami, hanya 2 bulan setelah dia meyerah padaku kabar pertunangannya sudah menyebar kemana mana, dengan wanita yang baru dekat dengannya hanya dalam waktu sebulan.

“Nin, kamu gak apa apa kan.” Usapan lembut Gina menyadarkanku dari lamunanku. Tanpa terasa bulir-bulir air mataku kembali jatuh tak terbendung. Aku mengusap air mataku, kembali mencoba focus, memantapkan diri dengan tujuan awalku, aku ingin resign dari pekerjaanku. Keputusan Adam untuk meninggalkanku aku rasa ada baiknya juga. Semenjak dia memutuskan menyerah denganku, aku terus berpikir apa yang salah denganku. Aku terus berintropeksi. Sampai pada akhirnya aku menyadari untuk apa aku ada. Untuk apa kaum wanita itu ada. aku teringat kisah ketika Adam –tentunya bukan Adam mantanku- manusia pertama diciptakan. dia hanya sendiri tanpa ada teman dari makhluk sesama jenisnya. Lalu tuhan pun menciptakan Hawa, wanita pertama yang diciptakan, yang tercipta untuk menemani sang Adam. Hanya sesimpel itu tujuan wanita diciptakan. bekerja, seharian didepan computer, mengejar karir, bukan itu fitrah perempuan. Dan sesuatu yang tidak sesuai dengan fitrah akan sangat menyulitkan. Itu menimpaku ketika aku tidak menyadari fitrahku. Aku ditinggalkan orang yang sangat aku cintai. Namun kini aku sadar, tak ada manfaatnya jika aku hanya diam merenung dan mengunci diri dikamar. Aku harus berubah. Belum ada kata terlambat untuk berubah. Dan aku akan terus belajar menjadi wanita seutuhnya, hingga Tuhan mengirimkan pengganti Adam. Karena aku yakin jodoh tidak akan tertukar, dan Adam bukan jodohku, bukan pula menjadi musuhku. aku harus berteman dengannya. Aku harus kuat, dan mulai menari kembali dengan harapan baru.

“ayok Gin, kita serahkan surat resign ini, abis itu kita makan es krim yaaa.” Gina hanya tersenyum geli melihat tingkahku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *