Lili dan Lala

Lili dan Lala merupakan saudara kembar. Mereka tinggal disebuah desa terpencil bersama kedua orang tua mereka. Keseharian mereka hanyalah membantu kedua orang tua mereka di kebun sayur. Meskipun begitu, mereka sangat senang membantu orang tua mereka. Mereka tidak pernah membantah ataupun mengeluh. Mereka akan sangat gembira bila disuruh orang tua mereka. Seperti hari ini, hari dimana saatnya panen sayur sayuran dikebun mereka.

“Liliiiiii, Lalaaaaaa, bantu ayah dan ibu panen sayur yuk.” teriak ibu dari dapur yang sedang menyiapkan bekal dan minuman untuk di kebun nanti.

“oke buuuuu” sambut Lili dan dan Lala berbarengan. Mereka dengan semangat bersiap siap dikamar mereka. Mereka pun segera bergegas ke dapur untuk membantu Ibu menyiapkan bekal. Ayah yang sedang mempersiapkan peralatan memanen di teras tersenyum lucu melihat kedua anaknya yang sangat bersemangat.

Setelah semua perbekalan siap, Lili, Lala, dan Ibu segera pergi ke depan rumah. Ayah sudah menunggu disana dan bersiap berangkat. Ketika hendak menutup pagar rumah mereka, ayah teringat suatu hal. Ayah lupa membawa cangkulnya. Ayahpun hendak kembali masuk kerumah. Tapi ketika ayah hendak kembali, Lili berseru, “ Ayah, biar Lili dan Lala aja yang mengambil cangkulnya, ayah tunggu disini aja bersama ibu.” Ujar Lili.

“Emangnya kalian kuat? Cangkulnya berat loh.” Tanya Ayah.

“Kuat doooong, kami kan berdua, pasti kuat, iya kan Lala?” Jawab Lili dengan penuh percaya diri.

“I iya, k kami kuat kok” ujar Lala dengan terbata.

Lili dan lala memang kembar yang identik, sangat sulit membedakan mereka jika hanya melihat dari penampilannya saja. Tapi secara sifat mereka sangat berbeda. Lili adalah anak yang pemberani, percaya diri dan cenderung ceroboh. Sementara itu Lala adalah anak yang sangat pendiam dan pemalu. Tapi walaupun begitu mereka saling mendukung dan tetap kompak.

Merekapun pergi mengambil cangkul di dibelakang rumah. Pada saat melewati dapur, Lili melihat ceret berisi air minum yang disiapkan ibu untuk minum mereka nanti. Ibu lupa membawanya.

“Lala lihat, ibu lupa membawa ceret minum kita. ayo kita bawa sekalian.” Ujar Lili kepada Lala.

“mmm… sebaiknya tidak usah Lili, kita kesini mau ambil cangkul, lebih baik kita antar dulu cangkulnya baru ambil ceret ini, nanti kita tidak kuat membawanya” jawab Lala.

“ah, tenang saja, kita pasti kuat kok. Ayok kita pikul berdua cangkulnya, biar aku bawa ceretnya dengan sebelah tanganku.” Jawab Lili penuh percaya diri.

“T tapi lili, ini air minum terakhir karena ibu blm sempat memasak air, kalau tumpah bagaimana?” Lala berusaha menahan Lili

“Sudah, kita pasti kuat.” Ujar lili penuh percaya diri. Lala yang tidak mampu membendung Lili akhirnya hanya menurut saja. Merekapun mulai mengangkat cangkul dan ceret tersebut. Dan benar saja, karena beratnya cangkul dan ceret yang dibawa lili, lilipun kehilangan kesimbangan. “GUBRAAAK!!!” Akhirnya mereka berdua pun jatuh. Air minum yang dibawa lili pun tumpah semua ke lantai. Suara jatuh mereka pun terdengar oleh Ayah dan Ibu. Ayah dan Ibu segera berlari kebelakang rumah untuk mengecek Lili dan Lala. Benar saja, mereka berdua sudah terduduk dilantai.

“Apa yang terjadi anakku?” ujar ibu khawatir.

“Mmmaaf Ayah Ibu, pada saat kami hendak mengambil cangkul,lili melihat air minum yang ibu lupa membawanya, jadi dia ingin membawanya sekalian. Dan kami mnejatuhkan air minumnya, Hiks.” Ujar Lala yang muali menangis.

“Tidak ibu Lala tidak bersalah. Dia sudah mencoba menahanku, tapi aku terlalu ceroboh dan tidak mendengarkan peringatannya. Aku yang salah ibu, hiks.” Ujar Lili yang membela Lala dan mulai ikut menangis pula.

Ayah dan Ibu tersenyum melihat anak-anaknya saling membela.

“hahaha…. Sudah- sudah, Ayah dan Ibu tidak marah kok. Sini ayah bantu.” Ujar ayah sambil membantu mereka berdiri. “Lili, apa yang kamu lakukan itu sudah benar, kamu mencoba untuk membawa ceret tersebut agar tidak repot. Tapi, kamu juga harus menyesuaikan dengan kemampuanmu, jangan dipaksakan bila ternyata tidak mampu. Dan untuk Lala, kamu juga udah benar kok dengan mencoba mempringatkan Lili. Tapi kamu harus lebih tegas lagi. Jangan takut untuk tegas walaupun sama saudara sendiri. Kamu harus tetap setia pada kebenaran. Jika itu salah, kamu harus menyampaikannya. Lain kali lebih hati-hati ya anak-anakku.” Ujar ayah menasehati.

“iya Ayah, maafkan kami.” Ujar Lala.

“lalu bagaimana dengan air minum kita ayah, ibu?” Tanya Lili.

“ya sudah tidak apa-apa. nanti kita beli saja air minumnya. Sekali-sekali kita beli.” Jawab ibu sambil tertawa.

“ayok kita berangkat.” Ajak ayah. Mereka pun berangkat ke kebun sayur dengan senyum yang menghiasi wajah mereka.

5 Comments

  1. Sahmual

    Setia pada kebenaran itu kereen..!!!

    Rasulullah Saw merupakan suri tauladan termasuk dalam hal setia pada kebenaran ini dengan ungkapan beliau “Kalau anakku Fatimah mencuri maka akan kupotong tangannya”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *