Kecil Tapi Berbahaya

 

Langit mulai kemerah-merahan. Asap kendaraan ditambah terik sinar matahari sore semakin menambah kegerahan dan kepenatan. Ditambah lagi kondisi jalan yang padat merayap dan diwarnai dengan suara klakson yang saling menyahut tiada henti. Suatu pemandangan yang lumrah di jalanan, karena sebentar lagi lebaran. Karena itu pula pesanan kue ibunya Juan meningkat. Dan hari ini, mereka mendapat pesanan yang lumayan banyak dari seorang pelanggan. Dan uangnya cukup untuk menambah biaya mudik mereka untuk pulang kampung.

Juan memacu motornya menyelip-nyelip diantara mobil-mobil. Di sore yang terik dan dalam keadaan puasa, dia ingin cepat sampai dirumah pelanggan ibunya yang memesan banyak kue hari ini. Dia hampir terlambat karena keasyikan bermain game. Dan tentu saja agar dia bisa segera pulang kerumah dan beristirahat sambil menunggu buka puasa. Disudut jalan terlihat beberapa orang yang memakai rompi berwarna hijau dan menghentikan beberapa kendaraan. Ya, siapa lagi kalau bukan polisi lalulintas.

Peristiwa yang aneh, batin Juan, karena hampir tak pernah dia melihat adanya polisi yang melakukan razia disekitar jalan tersebut. Juanpun berusaha menenangkan dirinya. Dia berpikir bahwa dia akan baik-baik saja, karena kendaraanya cukup lengkap. Helm, spion di kiri dan kanan lengan motor, lampu yang menyala. Namun dugaannya salah. Cara dia berkendara yang cukup membahayakan membuat mata para polisi tertuju padanya dan tentu saja mereka menyetop Juan. Polisipun mulai memeriksa kelengkapan Juan.

Ketika dimintai SIM, dengan tenang dan merasa menang Juan memberikannya. karena dia memang telah memiliki SIM. Namun ketika dimintai STNK, ASTAGA!!! Dia tidak membawanya. Dia mulai mencari didalam dompetnya, diseluruh sakunya, bahkan didalam bagasi motor. Sayangnya usahanya sia-sia, STNK motornya tertinggal. STNKnya dia tinggalkan diatas meja belajarnya sebelum berangkat mengantar kue. Dia tak pernah menyangka bila dijalan yang akan dilaluinya bakalan ada razia, jadi tidak perlu repot untuk membawa STNK segala karena dia sedang terburu-buru dan hampir terlambat.

Karena tidak dapat menunjukkan STNKnya, motor Juanpun terpaksa ditahan dan harus diambil di pengadilan. Tentu dengan denda yang lumayan besar. Tidak hanya sampai disitu, pesanan kue yang harusnya dia antarkanpun jadi terlambat. Sang pelangganpun membatalkan pesanan kuenya yang sudah sangat terlambat dan memilih memesan ditempat lain. Ibu Juanpun menanggung kerugian yang cukup besar karena telah menghabiskan dana untuk membuat kue yang banyak. Alhasil mereka tidak bisa mudik lebaran tahun ini. Ditambah lagi mereka harus membayar denda untuk mengambil kembali motor Juan yang ditahan.

Sepele dan terburu-buru, inilah sifat yang sangat berbahaya dan seharusnya dihindari. Mungkin bila Juan tenang dan tidak terburu-buru, dia tidak akan jadi perhatian polisi. Dan jika Juan tidak sepele meninggalkan STNKnya, mungkin motornya tidak akan ditahan. Intinya, dua sifat tersebut memang harus dibuang jauh-jauh dari diri kita. Memang kelihatannya kecil, tapi lihatlah dampak yang dihasilkannya.

Dari kisah diatas kita bisa melihat betapa bahayanya kedua sifat ini. Terburu-buru adalah sifat yang muncul gara-gara keseringan kita menunda-nunda pekerjaan. Bisa jadi sifat ini jatuhnya kesifat sepele. Sepele itu sendiri berakar dari menganggap kecil suatu pekerjaan, atau bahkan terhadap sesama. Bisa jadi ini adalah salah satu bentuk keangkuhan dan kesombongan kita. Dan sombong itu sendiri adalah pakaian tuhan yang tentu sangat terlarang bagi kita untuk memiliki sifat sombong.

Bahkan menganggap kalimat barusan berlebihan bisa jadi adalah salah satu bentuk sepele. Kita memang harus sangat berhati-hati dengan tipu muslihat setan yang sangat halus, yang berbagai macam caranya. Karena Adam yang “berlabelkan” nabi saja bisa digodanya. Bukan main-main, surga tempat dia menggoda Adam, bukan pasar malam. Mudah-mudahan kita bisa terhindar dari tipu muslihat setan yang terkutuk. Amin Ya Robbal Alamin.

2 Comments

  1. Sahmual

    Setuju agar kita membuang jauh2 dua sifat di atas dari kehidupan kita.. karena sebenarnya tdk ada kata bahwa kita sedang “sial”. Kesialan kita lebih disebabkan oleh 2 hal di atas “Sepele dan terburu-buru”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *