Besok Masih 24 Jam (Bagian 2)

Silahkan baca dulu : Besok Masih 24 Jam (Bagian 1)

Namun pemikiran tentang pembiayaan pengobatan anaknya langsung berganti dengan siapa pemilik uang tersebut. Dia berniat mengembalikannya, apalagi diamplop tersebut tertera sebuah alamat dan nama pengirim. Namun pemikiran tentang anaknya kembali melintas. Hampir setengah jam dia hanya memandangi amplop itu, menunggu keputusan hatinya yang terus berkecamuk. Akhirnya dia memilih membawa uang tersebut pulang. Sesampainya dirumah dia langsung mengajak istrinya untuk membawa anak mereka ke rumah sakit untuk langsung mendapatkan pengobatan yang lebih intensif.

Saat ditanyai oleh istrinya darimana mendapatkan uang sebanyak itu, dia hanya berdalih bahwa hari ini dia mendapatkan banyak langganan ditambah uang tabungannya, alasan yang sangat tidak masuk diakal istrinya. Istrinya terus menanyainya dan menolak untuk membawa anak mereka ke rumah sakit. Tiar naik pitam, dan merampas anaknya dari genggaman sang istri. Diapun pergi hanya berdua dengan anaknya yang ketakutan melihat sang ayah. Merekapun sampai dirumah sakit. Tiar langsung menuju ke tempat pendaftaran untuk langsung melakukan penjadwalan kemoterapi untuk sang anak.

Seminggu berlalu. Sang istri masih belum bisa menerima anaknya di obati dengan uang yang tidak jelas asal-usulnya. Dia terus berdo’a kepada allah agar suaminya disadarkan dari jalan yang sesat. Sehingga pada suatu pagi, Tiar terbangun dan melihat sang istri bersimpuh sambil menangis sehingga membasahi sejadahnya. Dia tak tahan melihat sang istri yang menangis sesenggukan seperti itu. Air matanyapun ikut meleleh.

Diberdirikannya sang istri kemudian dipeluknya. Mereka berpelukan sambil menangis untuk waktu yang cukup lama. Tiarpun menceritakan dari mana asal-usul uang tersebut. Dia meminta maaf kepada sang istri karena telah membohonginya dan berjanji akan memulangkan uang tersebut dan siap menanggung resikonya, walaupun dia harus dipenjara.

Kemoterapi sang anak langsung dia hentikan keesokan harinya walaupun kemoterapi tersebut baru berjalan dua kali. Setelah itu dia bergegas menuju ke alamat yang tertera di amplop tempat uang yang dia temukan menggunakan becaknya. Alamat tersebut ternyata adalah sebuah gedung perkantoran. Dia memberanikan diri untuk masuk dan mecari orang yang namanya tertera di amplop tersebut. Tenyata dia adalah seorang manager di kantor tersebut. Dia langsung menyambut kedatangan Tiar, dan mengatakan kalau dia adalah salah satu pelanggannya. Tentu saja Tiar tidak tahu, karena dia tak pernah menghapal pelanggannya.

Dengan sedikit gemetar Tiar memberikan amplop yang isinya sudah tidak seperti semula. Sang managerpun menerimanya dengan senyuman. Dia mengatakan uang itu hendak dikirimkan ke orang tuanya dikampung menggunakan wesel pos untuk membeli sebidang kebun. Diapun mengatakan kalau dia sudah menunggunya dan yakin kalau Tiar bakal segera melakukan itu karena sifatnya yang sudah sangat terkenal di kalangan pelanggannya. tapi Tiar tidak kunjung datang.

Sehingga dia berpikir jika Tiar sangat membutuhkannya jadi dia mengikhlaskan uang tersebut. Uang itupun dikembalikan lagi ke Tiar. Tiar tak dapat menahan ledakan tangisnya, dan dia mengatakan siap melakukan apa saja untuk membalas kebaikan sang manager. Tak perlu berpikir panjang, sang managerpun memberikan Tiar pekerjaan sebagai OB dikantornya dengan gaji yang tidak penuh. Meskipun sang manager tidak mau memberikan gaji yang tidak penuh, tapi Tiar tetap memaksanya.

Tiar sangat bersyukur karena anaknya telah sembuh. Begitupun dengan pekerjaannya sebagai OB. Selain tempat kerjanya yang dingin karena dalam ruangan diapun pada waktu itu mendapatkan kembali pendapatan yang tetap, walaupun gajinya lebih kecil. Dia sangat bersyukur dan menjadikan kantornya tempat menolong orang. Apapun itu, selagi dia bisa dia akan membantu, walaupun itu diluar kewajibannya.

Mengatarkan orang, memfotocopykan file-file, menjilid, bahkan pernah dia bergadang membantu salah satu karyawan membuat laporan dengan ilmu yang pernah dimilikinya dulu. Tanpa sadar dia menjadi perhatian dan pembicaraan di perusahaan tersebut. Tak lama kemudian dia dipindahkan sebagai karyawan. Namun dia tidak larut dalam kesenangan, sehingga dia terus membantu orang lain, dan tidak sadar ilmunya terus bertambah. Diapun berhasil naik pangakat, dan begitu seterusnya sehingga dia menjabat di jajaran direksi. Setelah itu dia memutskan untuk memulai usahanya sendiri dan resign dari perusahaan tersebut.

Usahanya berkembang pesat, dan mengatarkan dia keposisi yang dia miliki sekarang. Namun itu tak membuat dia berhenti untuk terus melakukan kebaikan. Dia bahkan mendirikan rumah sakit gratis yang dia khususkan untuk para penderita kanker. Dia tidak mau para orang tua diluar sana sampai melakukan tindakan bodoh yang pernah di lakukannya dulu. Sebuah nostalgia yang indah, sehingga tak sadar dia menitikkan air mata. Setelah sampai dikantornya, dengan senyuman bahagia dia memberikan uang lebih kepada tukang becak yang dia tumpangi.

Kebaikan, kebaikan, dan kebaikan, itulah yang terus dia lakukan. Karena dia sadar waktu akan terus berputar, dan hidup didunia ini hanya sebentar. Waktu tidak akan berkurang atau bertambah, tetap akan 24 jam. Begitupun keesokan harinya, keesokan harinya lagi dan seterusnya. Ya, besok masih 24 jam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *