Besok Masih 24 Jam (Bagian 1)

Kulitnya legam, karena mungkin hampir seharian dia dibawah terik sinar matahari. Nampak terlihat dari lipatan kulit wajahnya, entah berapa banyak volume polusi yang ia terima, entah berapa lama dia memendam emosi yang tentu saja hal biasa dijalan. Menyusuri kota, berkeliling, tak jarang bahkan untuk melewati jalan yang sama sampai berkali-kali. Tentu bukan hal sulit baginya bila ditanya nama suatu jalan, karena memang itulah pekerjaannya.

Pekerjaannya sekilas mirip seperti orang yang kerjanya menghambur-hamburkan uang, jalan-jalan kesetiap sudut kota, beli ini dan itu. Namun bedanya dia pergi ke setiap sudut kota untuk mengais sedikit uang yang dihambur-hamburkan tadi, mengantarkan ibu-ibu kepasar, atau mungkin mengantar ibu-ibu hamil ke rumah sakit. Sangat mulia bila kita mau lebih teliti lagi.

Matanya mulai sayu. Namun dia tetap mencoba mengangkat kelopak matanya yang beratnya tak seberapa dibanding beban yang ada pada tangan dan kakinya agar becaknya tetap berjalan normal. Bukan tak sayang diri, namun roda kehidupan yang lebih besar dari roda becaknya memaksa dia untuk bertahan agar tak kembali terlindas oleh roda kehidupan yang tak pandang bulu.

Anaknya yang lucu, istri yang sangat iya sayangi, selalu terngiang jika dia hendak beristirahat barang sejenak. Namun apa daya, badannya bukanlah robot, sehingga dia terpaksa melabuhkan becaknya untuk beristirahat sejenak. Diapun duduk dengan agak sedikit berbaring di dalam becaknya. Pikirannya melayang, membayangkan anaknya yang masih berumur sekitar 2 tahun setengah menunggu dirumah. Bapak muda ini harus meninggalkan anaknya yang masih begitu kecil untuk memenuhi kehidupannya.

Meskipun rumahnya memang masih berada di sekitaran Medan, tetap saja dia sulit untuk bertemu anaknya. Dia biasanya pulang larut malam disaat anaknya telah tidur dan pergi pagi sekali pada saat anaknya belum bangun. Tak jarang dia tidak pulang sama sekali dan tidur dibecaknya bila ngantuk telah begitu memberatkan dan tidak memungkinkan untuk pulang, terlalu berbahaya.

Tiar, begitulah dia dipanggil sehari-hari. Secara kemampuan, memang tak ada yang terlalu istimewa dari dia. Mungkin itu pula yang menjadi alasan kantor ditempat dia bekerja sebelumnya mem-PHK dia. Dan yang bisa dia lakukan hanyalah membawa becak yang dimiliki oleh saudara jauhnya, pemilik beberapa becak. Tapi dia tidak pernah mengeluh dengan keadan tersebut. Baginya ini hanyalah salah satu bentuk dari permainan hidup. Bukan untuk disesali, tapi untuk “dimainkan” dengan suka cita. “Dibalik laki-laki hebat, ada istri yang hebat pula”, kiasan inipun sangat cocok disematkan kepada istrinya.

Walaupun baru menikah dengan sang suami selama 3 tahun, dia sangat lihai menunjukkan rasa sayangnya. Dia tak pernah meminta yang aneh-aneh dari suaminya. Selalu mendukung dan selalu menyemangati sang suami. Dan begitu pula dengan sang anak. Walaupun masih berusia 2 tahun, dia bisa mengerti keadaan ayahnya dengan semua keluguan dan kepolosannya.

Tiar tau bahwa itu semua adalah anugerah dari tuhannya yang sangat besar. Diapun merasa punya kewajiban untuk mensejahterahkan titipan tuhannya. Diapun tak pernah lupa untuk selalu beribadah dan bersyukur. Dan diapun menjadi seorang yang terlalu tangguh untuk dikalahkan masalah kehidupan. Baginya semua itu merupakan ilmu, sesuatu untuk disyukuri, bukan dikeluhkan. Karena dia percaya bahwa semua kebaikan itu asalnya dari tuhan, dan semua kebrukan itu asalnya dari manusia itu sendiri.

Dia tak mau emosinya dikontrol oleh masalah atau orang lain. Dia yakin kebahagiaan itu asalnya dari diri sendiri, bukan dari orang, atau harta. Pada akhirnya, banyak orang yang menjadi langganan becaknya dan cukup mengenal dia secara pribadi, walaupun dia sendiri tidak hapal siapa saja yang menjadi langgannya. Alasan banyak orang yang menggemari becaknya bukan karena kecepatan becaknya atau kecantikan becaknya, tapi karena kecantikan hati sang pemiliknya. Tuhan memang tak pernah ingkar janji, siapa yang bersyukur maka akan ditambah. Selalu begitu.

Cerita masa lalu yang menarik memang. Dia bernostalgia dengan becak, ketika dia harus naik becak kekantornya karena mobilnya rusak. Dia teringat sosok 7 tahun lalu yang di pecat dari kantornya dan menjadi tukang becak. Namun sekarang dia punya kantor sendiri, dan harus naik becak kekantornya. Ya, dialah Tiar. Seorang yang memiliki sebuah perusahaan property yang lumayan besar. Ini semua tak lain dari semua sifatnya tadi yang terus dipertahankannya.

Semua itu bermula ketika anaknya terserang penyakit tumor jinak, penyakit yang harus segera dioprasi agar tidak semakin besar dan menyebar kemana-mana, dan bila itu terjadi tentu biayanya semakin besar dan sangat sulit untuk dia penuhi pada saat itu. Tak pernah seharipun dia terlepas memikirkannya. Dia selalu menabung setiap hari demi keselamatan sang anak. Dia pun melepaskan ketergantungannya terhadap rokok demi mengurangi pengeluaran. Ditambahkannya volume beribadah. Tak seharipun dia melewatkan tahajud dan duha. Begitupun dengan istrinya.

Hari berganti bulan, sakit yang diderita anaknya semakin hari semakin bertambah. Dia mulai putus asa. Tapi istrinya tak membiarkan itu terjadi. Sampai pada suatu hari dia membawa seorang penumpang yang keliatan cukup rapi. Seorang wanita yang berumur berkisar 44 tahun dan sepertinya pekerja kantoran. Ketika dia turun, tanpa sadar dia meninggalkan amplop berwarna coklat disela-sela antara bangku dan dinding becaknya. Tiar baru menyadari itu ketika beristirahat sejenak di dalam becak. Diapun membukanya, dan isi amplop tersebut adalah uang yang cukup banyak. Sangat cukup untuk membayar biaya operasi anaknya, bahkan lebih.

Baca Lanjutannya : Besok masih 24 Jam ( Bagian 2 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *